PENGERTIAN WAHYU:
Pengertian wahyu dari segi bahasa isyarat, ilham, nasihat,bimbingan, panduan atau petunjuk yang disampaikan ke dalam hati manusia. Istilah syarak kalam Allah yang disampaikan kepada para nabi dan rasul melalui malaikat Jibril mengenai syarat dan hukum Nya sebagai bimbingan kepada manusia
CIRI-CIRI WAHYU:
Ciri-ciri wahyu disampaikan kepada nabi dan rasul kebenarannya adalah mutlak, benar, sempurna, lengkap hukum wahyu adalah kekal tiada lagi selepas kewafatan Rasulullah SAW dapat menceritakan tentang perkara ghaib
CARA-CARA PENURUNAN WAHYU:
Cara-cara penurunan wahyu 1 malaikat mencampakkan wahyu ke dalam hati nabi 2 malaikat menjelmakan dirinya di hadapan nabi yang menyerupai seorang lelaki yg mengucapkan kalimah-kalimah 3 malaikat menjelma dengan bentuk rupa asal dan berjumpa nabi untuk menyampaikan wahyu
PERINGKAT PENURUNAN WAHYU:
Peringkat penurunan wahyu dari Allah ke Loh Mahfuz yg diturunkan sekaligus Dari Loh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia juga sekaligus pada malam Lailatul Qadar Dari Baitul Izzah kepada Rasulullah beransur-ansur selama 23 tahun melalui malaikat jibril
PERANAN WAHYU:
Peranan wahyu memimpin manusia ke jalan yang benar melalui risalah Islam menyuruh manusia melaksanakan syariat Allah mendidik manusia kepada akhlak manusia membetulkan akidah manusia yang telah rosak
PERANAN WAHYU KEPADA MANUSIA
Dapat memimpin manusia ke jalan yang benar serta membimbing manusia bagi memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Seterusnya , menyuruh manusia melaksanakan syariatnya dalam semua aspek kehidupan dan memberitahu khabar gembira tentang balasan syurga kepada yang melakukan kebaikan dan khabar dukacita kepada golongan yang melakukan kejahatan.
KESAN DARIPADA PIMPINAN WAHYU KEPADA MANUSIA
Menyelamatkan dan menjauhkan manuisa daripada kesesatan dan azab api neraka.Seterusnya, manusia menyembah Allah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya serta manusia memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.Selain itu,manusia dapat membezakan antara perkara yang halal dengan yang haram dalam membuat sesuatu tindakan.
Pengertian wahyu dari segi bahasa isyarat, ilham, nasihat,bimbingan, panduan atau petunjuk yang disampaikan ke dalam hati manusia. Istilah syarak kalam Allah yang disampaikan kepada para nabi dan rasul melalui malaikat Jibril mengenai syarat dan hukum Nya sebagai bimbingan kepada manusia
CIRI-CIRI WAHYU:
Ciri-ciri wahyu disampaikan kepada nabi dan rasul kebenarannya adalah mutlak, benar, sempurna, lengkap hukum wahyu adalah kekal tiada lagi selepas kewafatan Rasulullah SAW dapat menceritakan tentang perkara ghaib
CARA-CARA PENURUNAN WAHYU:
Cara-cara penurunan wahyu 1 malaikat mencampakkan wahyu ke dalam hati nabi 2 malaikat menjelmakan dirinya di hadapan nabi yang menyerupai seorang lelaki yg mengucapkan kalimah-kalimah 3 malaikat menjelma dengan bentuk rupa asal dan berjumpa nabi untuk menyampaikan wahyu
PERINGKAT PENURUNAN WAHYU:
Peringkat penurunan wahyu dari Allah ke Loh Mahfuz yg diturunkan sekaligus Dari Loh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia juga sekaligus pada malam Lailatul Qadar Dari Baitul Izzah kepada Rasulullah beransur-ansur selama 23 tahun melalui malaikat jibril
PERANAN WAHYU:
Peranan wahyu memimpin manusia ke jalan yang benar melalui risalah Islam menyuruh manusia melaksanakan syariat Allah mendidik manusia kepada akhlak manusia membetulkan akidah manusia yang telah rosak
PERANAN WAHYU KEPADA MANUSIA
Dapat memimpin manusia ke jalan yang benar serta membimbing manusia bagi memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Seterusnya , menyuruh manusia melaksanakan syariatnya dalam semua aspek kehidupan dan memberitahu khabar gembira tentang balasan syurga kepada yang melakukan kebaikan dan khabar dukacita kepada golongan yang melakukan kejahatan.
KESAN DARIPADA PIMPINAN WAHYU KEPADA MANUSIA
Menyelamatkan dan menjauhkan manuisa daripada kesesatan dan azab api neraka.Seterusnya, manusia menyembah Allah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya serta manusia memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.Selain itu,manusia dapat membezakan antara perkara yang halal dengan yang haram dalam membuat sesuatu tindakan.
Peranan Wahyu Dan Akal
Islam merupakan salah satu agama yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berpikir. Karenanya Islam maju dengan pesat. Belajar dari pengalaman Yunani, Ibnu Rushd menganggap filsafat sebagai sesuatu yang penting dalam ajaran Islam. Bahkan ia setuju kalau berpikir dianggap sebagai kewajiban dalam agama. Hanya dengan cara tersebut uamt Islam dapat mempertimbangkan tindak-tanduknya agar menjadi relevan dengan spirit yang diusung oleh al-Quran, yaitu toleransi dan anti kekerasan. Manusia dihargai karena akal budinya. Sebaliknya, manusia akan jatuh pada lubang kehinaan bilamana akal budinya digantikan dengan kebencian, kebodohan, apalagi kekerasan.
Dengan peranan akal atmosfer berijtihad akan terus membara, karena ijtihad adalah ruh untuk menghidupkan Islam secara istiqamah. Tanpa adanya ijtihad yang telah diteladankan oleh Umar ibn Khattab dan para ulama maka Islam hanya akan menjadi sebuah tontonan bukan sebuah tuntunan. Bukankah ditangan Nabi al-Quran dapat memecahkan pelbagai macam masalah, karena al-Quran sendiri bukan hanya sebatas wahyu belaka akan tetapi sebuah tuntunan agar diterjemahkan kedalam nilai-nilai yang positif. Jalaluddin as-Suyuthi melalui bukunya al-Ijtihad: Al-Radd ‘ala man Akhlada ila al-Ardli wa Jahila anna al-Ijtihad fiy Kulli ‘Ashr Fardhun. Mengatakan, hanya mereka yang fanatik saja yang akan menolak keniscayaan ijtihad. Ijtihad adalah cara yang paling efektif untuk menghidupkan rasionalisme di dalam Islam. Tidak sebagaimana di dalam ideologi kaum agamawan konservatif yang meletakan rasionalisme hanya untuk membentengi dogma. Rasionalisme dipakai untuk melakukan reinterpretasi tafsir agama yang tidak relevav dengan semangat zaman. Jika dalam skriptualisme akal mesti ditaklukan dalam kehendak-kehendak harfiah teks agama, maka dalam progresivisme Islam akal bisa bersetatus sebagai nasikh terhadap hukum-hukum yang tidak membawa kemaslahatan. Ini misalnya salah satu yang dimaksudkan dalam kaidah ushul fikih. “jawaz naskh al-nushus al-juz’iyyat bi al-maslahat” (it is possible to abbrogate the particular verses by maslahat).
Ibnu Rushd dalam bukunya Fashl al-Maqal fiyma Bayna al-Hikmati wa as-Syariati min It-Ittishal mengatakan, sekiranya ada suatu ajaran yang ternyata bertentangan dengan rasio atau akal budi (al-burhan), maka tidak ada cara lain, kecuali bahwa ajaran tersebut mesti direformasi melalui medium takwil (wa in kanat al-syari’ah nathaqat bihi, fala yakhlu dhahir al-nuthq an yakuna muwafiqan lima adda illaihi al-burhan fihi, aw mukhalifan. Fain kana muwafiqan fala qawla hunalika. Wain kana mukhalifan, thuliba hunalika ta’wiluhu (hlm. 32). (wa nahnu naqtha’u anna kulla ma adda ilahi al-burhan wa khalafahu dhahir al-syar’i, anna dzalika al-dhahir yaqbalu al-ta’wil (hlm.3). Terinspirasi ajaran Ibnu Rushd ini, saya merumuskan suatu kaidah bahwa “in khalafa al’aqlu wa al-naql quddima al-‘aql bi thariq al-takhsish wa al-bayan”. (ketika terjadi pertentangan antara pendapat akal dan bunyi harfiah teks ajaran, maka yang didahulukan adalah pertimbangan akal dengan menggunakan jalantakhsish (spesifikasi ajaran) dan bayan (penjelasan rasional).
Sebagai mahluk yang berakal, posisi manusia dalam proses pemaknaan ajaran demikian penting. Al-Nas ‘aqil wa al-nashsh ghair ‘aqil (manusia adalah yang berakal sedangkan nash sendiri tidak berakal). Manusia memiliki kewenangan mensortir partikular-partikular ajaran dalam Islam (tanqih al-nushush al-juz’iyyat). Hanya di tangan manusia yang mampu mengoptimalkan pendayagunaan akal, syari’at atau ajaran yang di wahyukan mengalami penyempurnaan demi penyempurnaan. Umar Farrukh mengungkap pandangan Ikhwan as-Shafa tentang syari’at dalam bukunya Ikhwan as-Shafa: Darsun, ‘Irdh, Tahilun (1991:32) menurut Ikhwan as-Shafa syari’at yang di wahyukan Nabi naqish. Anna al-Syari’ati al-Muhammadiyah naqishatun. Dengan pernyataan itu Ikhwan as-Shafa sebenarnya hendak berkata bahwa kesempurnaan syari’at selalu dalam proses menjadi yang terus menerus, tidak pernah berhenti, dalam hal ini akal yang mempunyai peran penting.
Dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru akan mengetahui kebaikan dan kejahatan setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan, jika dikatakan akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai yang baik dan yang jahat. Wahyu dapat mengangkat derajat manusia yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat memahami batas-batas. Tetapi wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vulgarisasi”, yaitu wahyu yang telah diinterpretasikan demi kepentingan sesaat dan duniawi. Agar wahyu itu bisa tetap eksis dan memperoleh integritasnya sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Wahyu itu sendiri laksana horison atau cakrawala yang tak terbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena cakrawala wahyu yang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Jaminan wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsirkan ide-ide ketuhanan yang terkandung di dalam wahyu. Lenyapnya Mu’tazilah mempengaruhi sikap umat Islam dalam membentuk dan menjalankan hukum Islam (fiqh), sebab dengan berkurangnya peranan akal, umat Islam lebih senang meniru atau bertaqlid pada pendapat pendahulu mereka.
Wahyu Dan Akal Sebagai Jawapan
Meskipun wahyu telah terhenti dan firman Tuhan tidak lagi turun, karena Nabi telah tiada, namun dengan akal dimensi ijtihad diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan yang semakin bertambah banyak. Ketika Nabi masih hidup praksis setiap masalah yang terjadi turunlah wahyu sebagai jawaban, namun sekarang wahyu telah terhenti dan sabda Nabi telah tiada, disini peranan akal difungsikan sebagai penggerak utama ijtihad.
Al-Quran secara berulang-ulang menganjurkan manusia agar menggunakan akal pikiran untuk memahami segala sesuatu yang ada disekitarnya. Di dalam al-Quran banyak kita temukan ungkapan tafakkar(berpikirlah), taffaquh (pahamilah), tadabbar (renungkanlah), dan lain sebagainya. Akal manusia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam. Bahkan para ulama menjadikan akal sebagai salah satu syarat mutlak untuk menemukan solusi bagi pelbagai persoalan yang ada, misalnya dalam proses istimbath (pengambilan) hukum, memahami ayat-ayat mutasyabihat (belum jelas maksudnya) dan sebagainya. Akal pikiran merupakan anugerah Tuhan yang sangat berharga, karena akal pikiranlah yang membedakan antara manusia dengan hewan.
Ibnu Rushd dalam bukunya yang berjudul Fashl al-Maqal fiyma Bayna al-Hikmati wa as-Syariati min It-Ittishal. Dengan sangat detail dan gamblang mengulas pentingnya memelihara kemerdekaan dalam berpikir. Menurut Ibnu Rushd, akal merupakan fitrah manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, atau membedakan antara yang benar dan yang salah. Menurutnya, tidak ada kontradiksi antara akal dan ajaran Islam. Beliau meletakkan akal sebagai obor yang menerangi jalan manusia dan memberikan petunjuk untuk kemaslahatan manusia. Artinya, kemerdekaan akal manusia bukanlah sekedar untuk tujuan pragmatis dan kepentingan sesaat, melainkan dapat mewujudkan kemaslahatan dan kemanfaatan.
Islam merupakan salah satu agama yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berpikir. Karenanya Islam maju dengan pesat. Belajar dari pengalaman Yunani, Ibnu Rushd menganggap filsafat sebagai sesuatu yang penting dalam ajaran Islam. Bahkan ia setuju kalau berpikir dianggap sebagai kewajiban dalam agama. Hanya dengan cara tersebut uamt Islam dapat mempertimbangkan tindak-tanduknya agar menjadi relevan dengan spirit yang diusung oleh al-Quran, yaitu toleransi dan anti kekerasan. Manusia dihargai karena akal budinya. Sebaliknya, manusia akan jatuh pada lubang kehinaan bilamana akal budinya digantikan dengan kebencian, kebodohan, apalagi kekerasan.
Dengan peranan akal atmosfer berijtihad akan terus membara, karena ijtihad adalah ruh untuk menghidupkan Islam secara istiqamah. Tanpa adanya ijtihad yang telah diteladankan oleh Umar ibn Khattab dan para ulama maka Islam hanya akan menjadi sebuah tontonan bukan sebuah tuntunan. Bukankah ditangan Nabi al-Quran dapat memecahkan pelbagai macam masalah, karena al-Quran sendiri bukan hanya sebatas wahyu belaka akan tetapi sebuah tuntunan agar diterjemahkan kedalam nilai-nilai yang positif. Jalaluddin as-Suyuthi melalui bukunya al-Ijtihad: Al-Radd ‘ala man Akhlada ila al-Ardli wa Jahila anna al-Ijtihad fiy Kulli ‘Ashr Fardhun. Mengatakan, hanya mereka yang fanatik saja yang akan menolak keniscayaan ijtihad. Ijtihad adalah cara yang paling efektif untuk menghidupkan rasionalisme di dalam Islam. Tidak sebagaimana di dalam ideologi kaum agamawan konservatif yang meletakan rasionalisme hanya untuk membentengi dogma. Rasionalisme dipakai untuk melakukan reinterpretasi tafsir agama yang tidak relevav dengan semangat zaman. Jika dalam skriptualisme akal mesti ditaklukan dalam kehendak-kehendak harfiah teks agama, maka dalam progresivisme Islam akal bisa bersetatus sebagai nasikh terhadap hukum-hukum yang tidak membawa kemaslahatan. Ini misalnya salah satu yang dimaksudkan dalam kaidah ushul fikih. “jawaz naskh al-nushus al-juz’iyyat bi al-maslahat” (it is possible to abbrogate the particular verses by maslahat).
Ibnu Rushd dalam bukunya Fashl al-Maqal fiyma Bayna al-Hikmati wa as-Syariati min It-Ittishal mengatakan, sekiranya ada suatu ajaran yang ternyata bertentangan dengan rasio atau akal budi (al-burhan), maka tidak ada cara lain, kecuali bahwa ajaran tersebut mesti direformasi melalui medium takwil (wa in kanat al-syari’ah nathaqat bihi, fala yakhlu dhahir al-nuthq an yakuna muwafiqan lima adda illaihi al-burhan fihi, aw mukhalifan. Fain kana muwafiqan fala qawla hunalika. Wain kana mukhalifan, thuliba hunalika ta’wiluhu (hlm. 32). (wa nahnu naqtha’u anna kulla ma adda ilahi al-burhan wa khalafahu dhahir al-syar’i, anna dzalika al-dhahir yaqbalu al-ta’wil (hlm.3). Terinspirasi ajaran Ibnu Rushd ini, saya merumuskan suatu kaidah bahwa “in khalafa al’aqlu wa al-naql quddima al-‘aql bi thariq al-takhsish wa al-bayan”. (ketika terjadi pertentangan antara pendapat akal dan bunyi harfiah teks ajaran, maka yang didahulukan adalah pertimbangan akal dengan menggunakan jalantakhsish (spesifikasi ajaran) dan bayan (penjelasan rasional).
Sebagai mahluk yang berakal, posisi manusia dalam proses pemaknaan ajaran demikian penting. Al-Nas ‘aqil wa al-nashsh ghair ‘aqil (manusia adalah yang berakal sedangkan nash sendiri tidak berakal). Manusia memiliki kewenangan mensortir partikular-partikular ajaran dalam Islam (tanqih al-nushush al-juz’iyyat). Hanya di tangan manusia yang mampu mengoptimalkan pendayagunaan akal, syari’at atau ajaran yang di wahyukan mengalami penyempurnaan demi penyempurnaan. Umar Farrukh mengungkap pandangan Ikhwan as-Shafa tentang syari’at dalam bukunya Ikhwan as-Shafa: Darsun, ‘Irdh, Tahilun (1991:32) menurut Ikhwan as-Shafa syari’at yang di wahyukan Nabi naqish. Anna al-Syari’ati al-Muhammadiyah naqishatun. Dengan pernyataan itu Ikhwan as-Shafa sebenarnya hendak berkata bahwa kesempurnaan syari’at selalu dalam proses menjadi yang terus menerus, tidak pernah berhenti, dalam hal ini akal yang mempunyai peran penting.
Dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru akan mengetahui kebaikan dan kejahatan setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan, jika dikatakan akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai yang baik dan yang jahat. Wahyu dapat mengangkat derajat manusia yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat memahami batas-batas. Tetapi wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vulgarisasi”, yaitu wahyu yang telah diinterpretasikan demi kepentingan sesaat dan duniawi. Agar wahyu itu bisa tetap eksis dan memperoleh integritasnya sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Wahyu itu sendiri laksana horison atau cakrawala yang tak terbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena cakrawala wahyu yang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Jaminan wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsirkan ide-ide ketuhanan yang terkandung di dalam wahyu. Lenyapnya Mu’tazilah mempengaruhi sikap umat Islam dalam membentuk dan menjalankan hukum Islam (fiqh), sebab dengan berkurangnya peranan akal, umat Islam lebih senang meniru atau bertaqlid pada pendapat pendahulu mereka.
Wahyu Dan Akal Sebagai Jawapan
Meskipun wahyu telah terhenti dan firman Tuhan tidak lagi turun, karena Nabi telah tiada, namun dengan akal dimensi ijtihad diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan yang semakin bertambah banyak. Ketika Nabi masih hidup praksis setiap masalah yang terjadi turunlah wahyu sebagai jawaban, namun sekarang wahyu telah terhenti dan sabda Nabi telah tiada, disini peranan akal difungsikan sebagai penggerak utama ijtihad.
Al-Quran secara berulang-ulang menganjurkan manusia agar menggunakan akal pikiran untuk memahami segala sesuatu yang ada disekitarnya. Di dalam al-Quran banyak kita temukan ungkapan tafakkar(berpikirlah), taffaquh (pahamilah), tadabbar (renungkanlah), dan lain sebagainya. Akal manusia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam. Bahkan para ulama menjadikan akal sebagai salah satu syarat mutlak untuk menemukan solusi bagi pelbagai persoalan yang ada, misalnya dalam proses istimbath (pengambilan) hukum, memahami ayat-ayat mutasyabihat (belum jelas maksudnya) dan sebagainya. Akal pikiran merupakan anugerah Tuhan yang sangat berharga, karena akal pikiranlah yang membedakan antara manusia dengan hewan.
Ibnu Rushd dalam bukunya yang berjudul Fashl al-Maqal fiyma Bayna al-Hikmati wa as-Syariati min It-Ittishal. Dengan sangat detail dan gamblang mengulas pentingnya memelihara kemerdekaan dalam berpikir. Menurut Ibnu Rushd, akal merupakan fitrah manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, atau membedakan antara yang benar dan yang salah. Menurutnya, tidak ada kontradiksi antara akal dan ajaran Islam. Beliau meletakkan akal sebagai obor yang menerangi jalan manusia dan memberikan petunjuk untuk kemaslahatan manusia. Artinya, kemerdekaan akal manusia bukanlah sekedar untuk tujuan pragmatis dan kepentingan sesaat, melainkan dapat mewujudkan kemaslahatan dan kemanfaatan.
Ibnu Rushd menyebutkan bahwa belajar dan menggunakan akal tidak dilarang dalam agama Islam, bahkan al-Quran mengandung banyak ayat yang menghimbau agar manusia menggunakan akalnya. Dalam rangka menghindari adanya pertentangan antara akal dengan teks al-Quran, Ibnu Rushd menegaskan bahwa teks al-Quran hendaknya dipahami secara mendalam untuk membuka maksud dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Kebebasan berpikir yang dikembangkan Ibnu Rushd bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada sikap kritis menuju pencerahan ijtihad, yakni membuka hikmah dibalik ajaran, firman, dan ciptaan-Nya. Dengan menggunakan akal, manusia dapat menyibak suatu hukum yang terkandung dibalik sebuah teks (an-nash).
Berpikir
adalah konsep membaca dan menggali makna terdalam dari wahyu. Sebab makna
simbolik yang terdapat di dalam sebuah teks kadangkala terbatas dalam konteks
tertentu, luas dan derasnya ruang dan waktu yang menjadikan makna lafalnya
terbatas dan seringkali tidak relevan dengan konteks tertentu. Penerapan akal
di dalam hukum Islam telah diterapkan oleh Ibnu Rushd dalam bukunya Bidayatul
Al-Mujtahid wa Nihayatul Al-Muqtashid. Ini adalah karya klasik yang paling
komperhensif dan sistematik mengkaji persoalan fikih dalam perspektif
perbandingan mazhab. Dalam kitab ini kita disuguhkan beragam argumentasi dan
perbedaaan pendapat berbagai macam madzhab fikih Sunni atas berbagai macam
masalah fikih, melainkan juga diajak untuk menyelami bagaimana suatu ketetapan
hukum atas suatu masalah fikih dibentuk dan bagimana penggalian hukum
(istinbath) dilakukan.
Salah satu contohnya ketika Ibnu Rushd membahas tentang cara menentukan ‘Illat (penyebab) dan maqashid (tujuan syari’at) dalm metode penggunaan qiyas, bukan saja agar mendapatkan pemahaman yang lengkap, melainkan juga agar kesimpulan hukum atas suatu masalah baru (al-furu’) yang dianalogikan dengan masalah lama (al-ashl)karena da kesamaan ‘illat ataupun maqashid dapat diaplikasikan. Begitulah Ibnu Rushd menggunakan akalnya untuk menemukan hukum yang sesuai dengan konteksnya.
Ibnu Rushd memang seorang rasionalis dan tokoh Islam yang menundukan segala sesuatu kepada pertimbangan akal. Namun ajaran agama yang diwahyukan Tuhan tetap diposisikan lebih tinggi daripada akal. Beliau bukan menggunakan akal secara liar dan bebas, hanya saja ijtihadnya terkadang melampaui ijtihad ulama-ulama lain. Ibnu Rushd menjelaskan tujuan menggunakan akal adalah untuk mencapai kemaslahatan, Islam pun tidak pernah mengabaikan akal, karena tanpa akal manusia buta dan tidak bisa mendapatkan hikmah yang terkandung dibalik suatu ajaran.
Salah satu contohnya ketika Ibnu Rushd membahas tentang cara menentukan ‘Illat (penyebab) dan maqashid (tujuan syari’at) dalm metode penggunaan qiyas, bukan saja agar mendapatkan pemahaman yang lengkap, melainkan juga agar kesimpulan hukum atas suatu masalah baru (al-furu’) yang dianalogikan dengan masalah lama (al-ashl)karena da kesamaan ‘illat ataupun maqashid dapat diaplikasikan. Begitulah Ibnu Rushd menggunakan akalnya untuk menemukan hukum yang sesuai dengan konteksnya.
Ibnu Rushd memang seorang rasionalis dan tokoh Islam yang menundukan segala sesuatu kepada pertimbangan akal. Namun ajaran agama yang diwahyukan Tuhan tetap diposisikan lebih tinggi daripada akal. Beliau bukan menggunakan akal secara liar dan bebas, hanya saja ijtihadnya terkadang melampaui ijtihad ulama-ulama lain. Ibnu Rushd menjelaskan tujuan menggunakan akal adalah untuk mencapai kemaslahatan, Islam pun tidak pernah mengabaikan akal, karena tanpa akal manusia buta dan tidak bisa mendapatkan hikmah yang terkandung dibalik suatu ajaran.
Islam
adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan yang dilandasi pada
olah pikir. Dalam sejarah peradaban manapun, sejauh kebebasan berpikir
dijadikan sebagai khazanah yang terus berkembang secara kreatif dan inovatif,
maka peradaban tersebut akan mengalami kemajuan. Ibnu khaldun mengingatkan kita
semua, bahwa ilmu dan peradaban merupakan dua sisi dalam satu koin. Keduanya
tidak bisa dipisahkan, sejarah kejayaan Islam di Baghdad, Cordova, Andalusia
membuktikan bahwa majunya sebuah peradaban terkait majunya ilmu pengetahuan,
sebaliknya runtuhnya sebuah peradaban akibat boboroknya ilmu pengetahuan, maka
dari itu umat Islam harus banyak belajar dari sejarah masa lalu. Terakhir yang
ingin saya katakan adalah bahwa wahyu dan akal merupakan petunjuk hidup manusia
yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling mengisi satu sama lain. Dalam
tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari, Nabi bersabda: Saya berkata kepada Ali, “Apakah kalian mempunyai
pemahaman tentang wahyu selain yang ada dalam al-Quran dan hal-hal yang
terdapat di dalam shahifah”. Lalu Ali bertanya. “Apa yang dimaksud dengan
shahifah?”, Nabi menjawab, akal, memerdekakan tawanan dan seorang Muslim yang
tidak membunuh orang kafir.”
Kandungan yang menjurus ke arah menghidupkan kembali ilmu agama yang bertunjangkan kepada konsep iqra’ hendaklah menjadi asas kepada pendidikan alaf baru, sekiranya masyarakat kita ingin hidup merdeka dan bebas menjalankan usaha memartabatkan agama dan bangsa mengikut acuan kita sendiri. Usaha gigih ke arah itu hendaklah dilaksanakan supaya kita terselamat daripada serangan penjajahan pemikiran dan akhlak yang dibawa oleh gelombang globalisasi dengan bersenjatakan internet dan kemajuan teknologi multimedia. Bahkan kita mestilah memanfaatkan kemajuan teknologi multimedia dan teknologi digital itu, untuk menyerang-balas serangan tersebut dengan risalah dan ajaran yang bukan matlamatnya untuk menguasai dan menghancurkan orang lain, tetapi untuk meningkat nilai-nilai hidup kemanusiaan supaya terpelihara maruah dan ke-hormatannya sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah s.w.t.
Kandungan yang menjurus ke arah menghidupkan kembali ilmu agama yang bertunjangkan kepada konsep iqra’ hendaklah menjadi asas kepada pendidikan alaf baru, sekiranya masyarakat kita ingin hidup merdeka dan bebas menjalankan usaha memartabatkan agama dan bangsa mengikut acuan kita sendiri. Usaha gigih ke arah itu hendaklah dilaksanakan supaya kita terselamat daripada serangan penjajahan pemikiran dan akhlak yang dibawa oleh gelombang globalisasi dengan bersenjatakan internet dan kemajuan teknologi multimedia. Bahkan kita mestilah memanfaatkan kemajuan teknologi multimedia dan teknologi digital itu, untuk menyerang-balas serangan tersebut dengan risalah dan ajaran yang bukan matlamatnya untuk menguasai dan menghancurkan orang lain, tetapi untuk meningkat nilai-nilai hidup kemanusiaan supaya terpelihara maruah dan ke-hormatannya sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah s.w.t.
KEISTIMEWAAN WAHYU AL-QURAN:
Mengandungi pelbagai ilmu pengetahuan kepada semua manusia dan merupakan rahmat kepada orang yang beriman sebagai pegangan hidup.seterusnya,tidak dapat ditandingi oleh mana-mana kitab lain dan terjamin daripada sebarang perubahan atau pemalsuan sehingga ke hari kiamat.selain itu,menjawab segala permasalahan manusia.
CARA BERSYUKUR DENGAN WAHYU:
Mengamalkan segala ajaran wahyu dalam kehidupan dan meninggalkan segala larangan wahyu.selain itu,mendalami dan mengkaji kebenaran wahyu dan menjaga kesucian wahyu.
KEPERLUAN WAHYU KEPADA MANUSIA:
Untuk membetulkan akidah manusia dan membawa manusia ke jalan yang benar dan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.seterusnya,membetulkan ajaran agama yang telah diselewengkan dan menerangkan cara-cara melaksanakan ibadat.selanjutnya,mendidik akhlak manusia.selain itu,panduan kepada manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan mendorong akal manusia membina tamadun.
SEBAB WAHYU TELAH TERHENTI PENURUNAN NYA:
Rasulullah SAW adalah adalah rasul terakhir dan Al-quran telah lengkap dan sempurna.Selain itu,Ajaran al-quran adalah sesuai pada setiap waktu dan zaman.
Mengandungi pelbagai ilmu pengetahuan kepada semua manusia dan merupakan rahmat kepada orang yang beriman sebagai pegangan hidup.seterusnya,tidak dapat ditandingi oleh mana-mana kitab lain dan terjamin daripada sebarang perubahan atau pemalsuan sehingga ke hari kiamat.selain itu,menjawab segala permasalahan manusia.
CARA BERSYUKUR DENGAN WAHYU:
Mengamalkan segala ajaran wahyu dalam kehidupan dan meninggalkan segala larangan wahyu.selain itu,mendalami dan mengkaji kebenaran wahyu dan menjaga kesucian wahyu.
KEPERLUAN WAHYU KEPADA MANUSIA:
Untuk membetulkan akidah manusia dan membawa manusia ke jalan yang benar dan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.seterusnya,membetulkan ajaran agama yang telah diselewengkan dan menerangkan cara-cara melaksanakan ibadat.selanjutnya,mendidik akhlak manusia.selain itu,panduan kepada manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan mendorong akal manusia membina tamadun.
SEBAB WAHYU TELAH TERHENTI PENURUNAN NYA:
Rasulullah SAW adalah adalah rasul terakhir dan Al-quran telah lengkap dan sempurna.Selain itu,Ajaran al-quran adalah sesuai pada setiap waktu dan zaman.
Untuk melahirkan
generasi muda yang progresif dan dinamik yang berpotensi menggerakkan
jentera Islam menuju kejayaan, mereka perlu melalui proses tarbiyyah yang
cemerlang. Tarbiyyah yang mampu menumbuhkan syajarah taiyyibah
(pepohon yang terbaik). Pepohon yang melahirkan seruan terbaik dan membawa
mesej terbaik. “Kalimah terbaik bagaikan pepohon terbaik,
tunjangnya teguh dan cabangnya menjulang di lagit. Ia dikunjungi setiap masa
oleh mereka yang mahu menikmati kelazatan buahnya
dengan izin Tuhannya.” Dengan
tarbiyyah cemerlang, generasi ini akan muncul sebagai “a seed which sends forth its
blade. It then becomes thick. And it stands on its own stem.”
Tarbiyyah yang
cemerlang bukan indoktrinasi yang bertujuan menjadikan generasi muda dan
mahasiswa sebagai alat untuk menjulang seorang wira atau memulihkan kedudukan
seorang pahlawan yang tersungkur atau menyokong sesuatu puak dan golongan bagi
menjamin undi dalam perebutan kuasa politik
WAHYU SEBAGAI SUMBER ILMU YANG AZALI:
MAKSUD AZALI: Azali merujuk kepada ilmu Allah SWT yang hakiki, tiada permulaan dan kesudahan, kekal, mutlak dan tidak terbatas kepada sesuatu tempat dan ruang
PERBUATAN YANG BERASASKAN WAHYU:
Perbuatan tersebut tidak memihak kepada golongan tertentu dan perbuatan tersebut adalah menyeluruh dan adil kepada semua pihak.selain itu,perbuatannya konsisten dan tidak berubah.
PERSOALAN YANG TIDAK MAMPU DIFIKIRKAN OLEH AKAL TANPA BIMBINGAN WAHYU:
Memikirkan hakikat ketuhanan yang sebenar dan memikirkan cara-cara beribadat yang sebenar.seterusnya,memikirkan perkara-perkara ghaib .Contohnya malaikat , jin , dan sebagainya .Selain itu,memikirkan perkara-perkara Samiyyat seperti azab kubur, syurga dan neraka dan memikirkan nilai-nilai dan akhlak murni yang sebenar.
SEBAB AKAL MANUSIA MEMERLUKAN WAHYU:
Akal manusia sentiasa terdedah kepada kesilapan dalam membuat keputusan dan kemanpuan akal adalah terhad dan hanya mampu memikirkan perkara zahir sahaja.selain itu,kebenaran akal adalah bersifat sementara dan akal manusia mudah dipengaruhi oleh nafsu dan persekitaran.
Pendidikan alaf baru di dunia Islam
mestilah bersih daripada kesan-kesan peperangan pemikiran ini dari segi sistem
dan kandungannya, mahupun perancang dan pendidik yang menggerakkan proses
tarbiyyah bagi membina generasi muda yang bakal memimpin masyarakat Islam di
masa hadapan. Bahkan para pemikir dan perancang pendidikan, mestilah merancang
dan merangka serta mencari jalan-jalan dan kaedah paling berkesan untuk
menggagalkan peperangan pemikiran yang dilancarkan oleh penjajah untuk
menakluki pemikiran umat supaya tunduk kepada mereka.
Penjajahan fikiran lebih berbahaya
daripada penaklukan negara. Ini ialah kerana penaklukan pemikiran itu tidak
berakhir dengan pengunduran penjajah daripada sesuatu negara. Meskipun kini,
banyak negara Islam yang dijajah telah merdeka, namun mentaliti anak tanah
jajahan dan kesan-kesan peperangan fikiran masih lagi kekal dianuti oleh
sebahagian besar masyarakat Islam yang terjajah itu. Kesan peperangan pemikiran
ini menjadi penghalang besar untuk masyarakat Islam membina falsafah, sistem
dan kandungan pendidikan mengikut acuan mereka sendiri. Justeru, masyarakat dan
dunia Islam seharusnya, membentuk satu kumpulan pakar dan perancang yang bebas
daripada mentaliti anak tanah jajahan bagi merancang pembangunan pendidikan
yang eksilen bagi membina generasi ummat di alaf baru. Kumpulan ini mestilah
juga bebas daripada kesan-kesan dan elemen kemunduran yang membawa kepada
runtuhnya tamadun Islam dan lenyapnya tradisi keilmuan yang membentuk, membina
dan mengembangkan tamadun Islam awalan. Kumpulan ini mestilah bebas daripada
tasawwur ilmu agama yang disempitkan oleh desakan elemen kemunduran ini,
sehingga ilmu agama itu hanya terbatas kepada bacaan ke atas wahyu sahaja, dan
mengabaikan bacaan ke atas alam. Ilmu agama itu, kemudiannya, disempitkan lagi
oleh elemen kemunduran ini sehingga skopnya menjadi sempit dan pengajian agama
tidak lebih daripada hanya mempelajari usuluddin, syariah dan bahasa Arab.
No comments:
Post a Comment